| Laporan Kegiatan |
|
|
|
|
Studi Banding Perusahaan IKM Jepang di Toyama dan Ishikawa Prefecture KBRI Tokyo yang diwakili oleh Atase Keuangan dan Working Group for Technology Transfer (WGTT) mengadakan studi banding ke IKM (industri kecil menengah) di Toyama dan Ishikawa Prefecture pada hari Selasa, 16 Desember 2008, untuk mengumpulkan informasi tangan pertama dari pemilik atau karyawan perusahaan IKM Jepang terutama ditujukan kepada (i) struktur produksi, jaringan produksi, pemasaran dan relasi bisnis manca negara, (ii) peranan fasilitasi perdagangan khususnya dalam hal prosedur ekspor-impor ke Indonesia, (iii) Potensi kerjasama dagang dan atau investasi , dan (iv)transfer teknologi.Kegiatan ini diliput oleh media massa tulis dan tv Jepang yaitu Kita Nippon Shinbun dan Yomiuri Shinbun) dan media televisi Jepang (Kita Nippon Broadcast dan Tulip Television. Pengamatan langsung dan diskusi intensif dengan para pemilik perusahaan yang dikunjungi, antara lain :
Sankoh Manufacturing Co., Ltd dengan Bapak Tatebe Kanjiro; bergerak di bidang penyediaan spare part, khususnya hydraulic valves, produksi dan penjualan berdasarkan order yang terstandarisasi. Berdiri sejak 10 Juli 1938 dengan modal ¥10,000,000. Customernya antara lain Komatsu Ltd, Mitsubishi Heavy Industries, Sumitomo Heavy Industries Construction Cranes, Furukawa Rock Drills, Japan Steelworks Ltd, dan Sumitomo Construction Machinery. Jumlah pekerja pada perusahaan ini sebanyak 53 orang (termasuk 5 orang kenshusei dari Indonesia). Presiden dan CEO Sankoh Manufacturing Co., Ltd. menyampaikan bahwa perusahaan mempunyai beberapa mesin yang nilai depresiasinya sudah hampir habis dan bersedia untuk menghibahkannya kepada kenshusei yang sedang magang di perusahaannya.
Sinminato Kamaboko Corp., Ltd, merupakan IKM di bidang pengolahan hasil perikanan. Lokasi terletak di Imizu-shi, Toyama Prefecture No.21. Produk utama adalah kamaboko yang merupakan makanan khas dari Jepang. Kamaboko ini biasanya dimakan dalam bentuk irisan-irisan tipis, dimakan secara langsung atau dimakan bersama sup atau udon (mie Jepang). Terdapat beberapa versi bahan baku kamaboko ini, pada umumnya terbuat dari campuran ikan putih (shark), cod dan lobster. Kamaboko dipasarkan di berbagai daerah di dalam negeri (Hokkaido, Chubu, Kanto, Kansai, dll.).
Harga kamaboko pada perusahaan ini berkisar antara 247–6615 yen. Harga tergantung pada proses pengolahan, terutama bentuk cetakan dan hiasan. Pembuatan kamaboko dengan proses pewarnaan dan penghiasan satu-persatu membuat harga semakin tinggi terutama karena memerlukan keahlian seni keindahan, kecermatan dan ketelitian yang tinggi. Penjualan tertinggi atau peak sales terjadi pada musim dingin, musim natal dan tahun baru. Produk kamaboko, sebenarnya bukan hanya konsumsi orang Jepang. Tidak heran apabila supermarket di Eropa atau di Amerika pun dapat ditemui produk tersebut (sudah dibuat di negara tersebut). Untuk bahan baku, Sinminato Kamaboko Corp. mengandalkan pasokan dalam negeri ditambah pasokan dari laut Alaska. Dari diskusi disampaikan bahwa ikan dari Indonesia kurang diminati oleh perusahaan di Jepang dengan alasan utama ikan berbau amis. Hal ini disebabkan karena jenis perairan Indonesia yang pada umumnya adalah perairan dangkal. Untuk perairan laut dalam, seperti laut di daerah Indonesia Timur sangat berpotensi untuk diekspor ke Jepang.
Komatsu Ltd., Awazu Plant dengan Bapak Eiji Fukugawa, Bapak Kyogo Okuda, Bapak Shinobu Fukuda dan Bapak Kei Minamino. adalah produsen alat berat terbesar di dunia setelah Caterpilar dari Amerika Serikat. Berdiri sejak tahun 1921, dengan dukungan group 208 perusahaan yang tersebar di seluruh dunia (keiretsu). Bisnis utama Komatsu Ltd. bergerak dalam bidang manufaktur dan penjualan peralatan kontruksi, pertambangan, utilities dan mesin industr. Komatsu Ltd., Awazu Plant adalah mother plant dari Komatsu Group, terletak di Tsu 23, Futsu-machi, Komatsu-shi, Ishikawa Prefecture 923-0392. Luas tanah 710.000 m2, luas bangunan 233.000 m2 dan jumlah karyawan 3.800 orang.
Dari hasil paparan pihak Komatsu dan diskusi bersama, disampaikan komitmen Komatsu untuk mengembangkan Komatsu di Indonesia. Salah satu komitmen Komatsu adalah meningkatkan kandungan lokal produk Komatsu di Indonesia yang secara tidak langsung juga ikut memberdayakan sektor IKM di Indonesia sebagai pemasok (layaknya di Jepang, sebagai contoh Sankoh Manufacturing Co., Ltd. yang menyuplai spare part secara kontinyu kepada Komatsu Ltd, Awazu Plant.
Selain berdiskusi dengan key persons dan mengunjungi area pabrik dari ketiga perusahaan tersebut, KBRI Tokyo dan Tim WGTT juga mendapatkan bahan tertulis yang cukup lengkap sebagai bahan referensi.
Beberapa rekomendasi dan next step sbb: 1. Dalam dunia yang kondisinya saat ini borderless, web adalah sebuah keharusan. Untuk itu perlu untuk mengadakan pelatihan pembuatan homepage dan kontennya bagi IKM di Indonesia. Untuk memudahkan departemen terkait dalam pembinaan, dapat disediakan hosting dan server bersubsidi agar IKM bisa mengakses dan memilikinya. Saat ini hosting yang harganya terjangkau sangat mudah ditemukan, namun kualitas serta layanan masih banyak yang belum memuaskan.
2. Dibuatnya intruksi dari departemen terkait kepada setiap PMA dan PMDN untuk memberikan kesempatan tender pengadaan atau supply komponen bagi pengusaha lokal, dengan ditetapkan jumlah minimal penyuplai lokal. Setelah kuota terlampaui, pengadaan dari pihak luar diijinkan.
3. Barang depreciated di Jepang bagi IKM di Indonesia sangat berharga sekali. Untuk itu perlu diberikan insetif dan kemudahan dalam memindahkan barang di Indonesia dari instansi terkait. Mengenai kesiapan spare part, secara umum di daerah hal-hal mendesak biasanya dapat diantisipasi dengan sistem kanibal atau sistem bubut sehingga presisinya mirip.
Pelatihan bagi IKM Indonesia akan pentingnya kualitas produk dan kepercayaan dan image konsumen . Meredefiniskan kembali, sistem quality control yang biasa dilakukan IKM di Indonesia agar produknya dapat bertahan di pasar dan bersaing di pasaran internasional.
|
|||
| Last Updated on Friday, 02 January 2009 09:16 |
















